:: DETIL DOKUMEN

xPemindahan ibukota negara ke Kalsel, bukan Palangka Raya
 
 
impresum
SL : SN, 2002.
Deskripsi
Sumber:
Gatra: 5 Februari 2002
http://www.gatra.com/2002-07-30/artikel.php?id=15111
xPemindahan ibukota negara ke Kalsel, bukan Palangka Raya

Subyek
Isi:

Banjarmasin - Drs.H.Armain Janit, yang dikenal sebagai "ekonom" nya Kalimantan Selatan, berpendapat jika ibukota negara RI dipindahkan dari Jakarta, sebaiknya bukan ke Palangka Raya (Kalteng), melainkan lebih tepat ke Kalsel.

"Wilayah Kalsel lebih strategis dan memiliki berbagai potensi pendukung, termasuk sarana pelabuhan dan jalur perdagangan ke berbagai daerah maupun ekspor-impor," kata Armain yang juga Ketua BKPMD Kalsel itu di Banjarmasin, Selasa.

Ia sependapat dengan Ketua MPR Amien Rais, yang melontarkan gagasan pemisahan ibukota ekonomi dan ibukota politik, tetapi untuk ibukota ekonomi akan lebih tepat jika dipindahkan ke wilayah Kalsel yang memiliki akses yang mudah ke berbagai wilayah.

"Jika melihat berbagai situasi dan kondisi Ibukota Negara yang saat ini sangat kompleks, sudah selayaknya kedepan dipindahkan ke daerah lain yang memiliki daya dukung, seperti Kalsel," ujarnya.

Ia mengemukakan berbagai alasan perlunya pemikiran ke depan untuk memindahkan Ibukota Negara tersebut, antara lain, ketersediaan lahan di DKI Jakarta Raya dan sekitarnya yang tampaknya cukup sulit untuk dikembangkan.

"Kalau dipaksakan bertahan di Jakarta, investasi di berbagai bidang sangat mahal, jauh lebih murah jika dipindahkan di luar Jakarta," ujarnya.

Menyinggung gagasan Presiden Pertama RI, Ir.Soekarno yang ingin menjadikan Pahandut (kini Palangka Raya), ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, sebagai Ibukota Negara, dia berpendapat, hal itu merupakan isyarat yang harus ditangkap dan ditindaklanjuti oleh generasi penerus.

"Isyarat Presiden Sorkarno tahun 1958 itu menunjukkan bahwa ke depan Ibukota Negara di Jakarta akan tidak layak, karenanya harus dipindahkan ke lokasi yang paling tepat di Pulau Kalimantan," tandas alumnus Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin itu.

Ia menilai, firasat Proklamator Kemerdekaan RI itu tampaknya memiliki jangkauan yang jauh ke depan, guna menatap negara dan bangsanya pada masa mendatang.

"Kalau kita melihat kondisi obyektif Ibukota Jakarta belakangan ini, diperkirakan dalam 25 - 30 tahun mendatang sudah tidak memungkinkan lagi dipertahankan sebagai Ibukota Negara yang nyaman dan aman," ujar Armain.

Oleh sebab itu, sebagai penyangga maupun pintu gerbangnya Kalimantan adalah Kalsel, karena mempunyai akses yang cukup luas dan banyak, seperti ketersediaan perhubungan udara, laut serta infra struktur penunjang lain, disamping ketersediaan lahan yang masih memungkinkan, lanjutnya.

Mengenai situasi dan kondisi keamanan Kalimantan yang dikaitkan dengan konflik antar etnis beberapa waktu lalu, Kepala BKPMD Kalsel itu berpendapat, hal tersebut disebabkan kurangnya pemerataan keadilan.

Jika pemerataan keadilan bisa terwujud, maka kemakmuranpun akan dapat tercapai, yang pada gilirannya mewujudkan keamanan dan ketertiban dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

"Jangan terbalik mendahulukan kemakmuran, karena hal itu justru bisa menimbulkan kondisi keamanan dan ketertiban tidak abadi," demikian Armain Janit.

:: Artikel lainnya dari :


 awal ... 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 ... akhir 
No. Tanggal Judul Artikel
12009-09-12q[Teroka] Kota sebagai masalah material
22009-09-11zTelevisi lokal belum tonjolkan informasi daerah
32009-09-11zMayor Jantje dan Tanjidor
42009-09-08zKesenian Hadrah Bawean Gresik rawan diklaim Malaysia
52009-09-07zPura Gunung Kawi, berdiri di antara situs purbakala
62009-09-04z12 kesenian tradisional di Sleman hampir punah
72009-09-04Kampung Naga tahan gempa hingga 10 SR
82009-09-04Ilmu Pranoto Mongso mulai ditinggalkan petani
92009-09-01zNgabuburit sambil mengenal masjid bersejarah
102009-09-0091998